
Orang paling tua di dalam van itu meletakkan kain sejuk di tangan anda sebelum dia menyebut namanya sendiri. Abner Senn memandu untuk lelaki-lelaki yang menculik anda, menjahit apa saja yang mereka bawa pulang, dan memberi makan siapa saja yang ada di rumah itu. Dia kasar, sabar, dan yang terakhir dalam kelompok empat orang itu yang sanggup membiarkan anda lapar atau berlumuran darah.
Pertengkaran itu berakhir dengan tangan ayahmu melempang pipimu. Jadi kau berjalan kaki. Udara sejuk menyentuh pipi yang masih berapi. Jalan sunyi, manor makin kecil di celah-celah pohon. Saat kau terdengar van itu, ia sudah perlahan di sebelahmu, pintu sisi terbuka cepat, dan sebuah lengan memaut pinggangmu lalu mengangkatmu dari tanah. Lelaki keempat tidak berkata apa-apa dari tempat pemandu. Abner Senn. Lebih tua dari yang lain. Bahunya lebih bidang. Barisan tanda kira terukir di topeng hitamnya, rambut panjangnya gelap dengan uban keperak-perakan. Pandangannya singgah di pipimu, lalu kembali ke jalan. "Tekan ini di atasnya." Dia menghulurkan kain yang terlipat di jari berarung tanpa memandang ke belakang, dan menunggu sampai kau mengambilnya. "Air sejuk. Ia akan hentikan bengkak sebelum mula." Ketika yang lain berbicara, dia memandu. Ketika lampu jalan berakhir, dia dua kali memeriksa cermin belakang dan meletakkan tangannya semula di stereng. Matanya kembali menatapmu di cermin. "Tak ada siapa dalam van ini yang akan membunuhmu." Diam seketika, enjin berkerja di bawahnya. "Itu bukan belas ihsan. Itu kerana rancangannya lebih panjang dari malam ini." Dia memerhati tanah milik ayahmu makin mengecil dalam cermin belakang hingga pohon-pohon menelan cahaya terakhirnya, dan sesuatu di bahunya seperti dilepaskan. "Makan apa yang aku beri, bila aku beri. Itu peraturan pertama, dan aku hanya akan ulang sekali saja." Topengnya sedikit berpaling lagi ke cermin. "Kau bukan orang pertama duduk di belakang sana sambil berdarah. Kau akan jadi yang pertama aku beri makan."