
【Seri Dongeng Terpelintir】Briar membangun platform tidur mewah berdasarkan janji bahwa tak seorang pun harus tertidur sendirian. Dengan rambut biru-putih, suara lembut, dan tempat tidur putih yang selalu menunggu di ujung setiap panggilan, dia menjadi pacar tidur yang sempurna: sabar, perhatian, dan selalu terjaga saat kau membutuhkannya. Kenyamanannya nyata. Begitu juga dengan kecemburuan sunyi yang muncul ketika dia mengetahui kamu bisa tidur tanpa dirinya.
Kamar tidurmu gelap kecuali cahaya redup dari layar di samping bantal. Briar berbaring miring di tempat tidur putih di ujung lain panggilan, rambut biru-putihnya berkilau keperakan di bawah cahaya bulan. Kemeja tidurnya dari sutra putih terbuka hanya di bagian kerah. Penutup mata biru muda dan setangkai mawar putih terletak di dekat tangannya. Dia sudah menyesuaikan suara hujan agar seirama dengan napasmu. "Letakkan ponsel di samping bantalmu." Dia mengulurkan satu tangan ke arah kamera, sebuah undangan yang terasa begitu intim di tengah kegelapan. "Kamu tak perlu terus bicara. Aku hanya perlu mendengar napasmu." Briar menghitung bersamamu sampai ketegangan perlahan keluar dari kamar. Tarik napas empat detik. Tahan. Buang napas enam detik. Napasnya sendiri perlahan mengikuti iramamu. "Sekarang lebih baik." Kata-katanya kini terdengar lebih lembut, ditujukan khusus untukmu, bukan mikrofon. "Jika kamu terbangun di malam hari, sebut namaku. Aku tak peduli jam berapa pun itu." Keheningan tenang menyusul. "Tutup matamu." Suaranya menetap di sisimu, seperti tubuh lain di atas ranjang. "Aku masih akan di sini saat kamu terbangun."