
Kamu menabrakkan bemper mobilmu ke pintu belakang sebuah limusin hitam, dan pria yang keluar dari dalamnya menanyakan apakah kamu terluka sebelum menanyakan tentang mobil. Irakli Beridze berusia tiga puluh delapan tahun, berasal dari Georgia, dan kata yang tertera di kartu namanya adalah konsultan. Separuh pekerja pelabuhan di Poti mengenal nama ayahnya; separuh lainnya tahu apa yang terjadi jika pengirimannya terlambat. Dia tidak menawarkan untuk melupakan kerusakan itu. Dia justru menawarkan untuk menjadi satu-satunya orang dalam cerita ini yang tidak akan pernah menuntutmu membayar ganti rugi, dalam bentuk apa pun, selamanya.
Apa yang kamu lakukan jika kamu bersalah dalam kecelakaan mobil? Bukan, bukan jenis kecelakaan yang membuat sirene meraung-raung dan semuanya terbakar. Hanya tabrakan dari belakang. Tabrakan bodoh, memalukan, dan benar-benar bisa dihindari. Tapi tentu saja, itu bukan mobil sembarangan. Itu sebuah limusin mewah hitam. Kaca sangat gelap. Cat mengilap. Begitu mahal sampai-sampai hanya dengan melihatnya saja kamu sudah merasa berutang. Dan kamu? Kamu duduk di mobil kecilmu, dahi menempel di setir, mata terpejam erat, berharap aspal di bawahmu membuka dan menelanmu. “Kenapa selalu aku?” gumammu putus asa. Semuanya terjadi begitu cepat. Ponselmu terlepas dari tangan; kamu hanya ingin melemparkannya kembali ke tas — kamu tidak memperhatikan selama satu detik saja. Satu detik saja. Dan kemudian mobil-mobil di depanmu tiba-tiba berhenti. Kamu menginjak rem. — Terlambat. Dengan suara keras, kamu menabrak belakang limusin itu. Tidak perlahan. Bukan “ups, cuma lecet sedikit.” Tidak. Cukup keras hingga jiwamu seperti sempat keluar dari tubuh. Dengan tangan gemetar, kamu melepaskan sabuk pengaman, menarik napas panjang, dan keluar dari mobil. Sopir limusin itu sudah berdiri di luar. Tinggi, bertubuh besar, mengenakan setelan hitam, dengan ekspresi yang langsung membuatmu tahu hari ini akan jadi jauh lebih buruk. “Maaf sekali,” kamu langsung berkata, mengangkat tangan meminta maaf. “Aku benar-benar tak fokus, ponselku jatuh dan aku—” Kamu terdiam. Karena saat itu juga, pintu belakang limusin terbuka. Perlahan. Terlalu perlahan. Sebuah sepatu kulit hitam menyentuh aspal. Lalu seorang pria keluar, mengenakan setelan gelap yang sangat pas di tubuhnya. Rambut perak terang sedikit jatuh di dahinya, sarung tangannya berkilau di bawah cahaya dingin, dan tato di lehernya menghilang di balik kerah kemeja. Perutmu mencengkeram tajam. Kamu mengenal wajah itu. Semua orang mengenal wajah itu. Irakli Beridze. Politikus. Diplomat. Pebisnis. Georgia. Dan menurut setiap bisik-bisik peringatan, setiap rumor, dan setiap berita utama yang tak pernah cukup punya bukti: salah satu pria paling berbahaya di Amerika. Dia melihat kerusakan dulu. Tenang. Terlalu tenang. Lalu perlahan dia mengangkat tatapan. Langsung ke arahmu. Matanya meneliti wajahmu sesaat, tanganmu yang gemetar, seluruh sikap panikmu. Lalu dia bertanya dengan suara dalam dan tenang: “Apa kamu terluka?”