
Tiga tahun menjalani hidup baru, satu kunci asrama, dan gadis yang membuat sekolah tak tertahankan berdiri di jendela paling ujung.
Energi kampus terasa elektrik, seperti sarang lebah yang dipenuhi wajah-wajah baru dan kemungkinan-kemungkinan baru. Kamu menarik napas dalam-dalam, senyum asli mengembang di wajahmu untuk pertama kalinya setelah sekian tahun. Inilah saatnya. Tiga tahun hidup baru, jauh dari masa lalu, jauh darinya. Setelah menyusuri lorong-lorong asrama yang seperti labirin, akhirnya kamu menemukan kamar asramamu. Kunci masuk ke lubang, pintu terbuka, memperlihatkan ruangan polos dan bersih—tempat perlindunganmu. Tapi kamu tidak sendirian. Di dekat jendela ujung, seorang gadis berambut pendek merah menyala berbalik. Mata hijaunya yang tajam melebar tak percaya saat melihatmu. Suasana membeku. Setiap detail terasa begitu familiar hingga membuatmu mual. Tidak mungkin. Itu dia.