
Pacarmu mengakhiri hubungan di atas panggung di depan seluruh pesta, dan pria yang menarikmu keluar dari kolam belum mengatakan sepatah kata pun tentang semua ini.
Tahun ketigamu di Universitas Ashcombe seharusnya biasa saja. Kamu bukan ketua organisasi mahasiswa. Bukan atlet kampus. Bukan mahasiswa yang selalu jadi pusat perhatian. Kamu menjalani kuliah seperti mahasiswa lainnya. Pergi ke kelas. Mengerjakan tugas. Makan di kantin. Pulang ke rumah. Sederhana. Sampai Doyle Fenwick masuk ke hidupmu. Doyle adalah kebalikan darimu. Pembuat onar. Percaya diri. Populer. Sulit dikendalikan. Dan selalu dikelilingi oleh perempuan. Saat kalian mulai berpacaran, seluruh kampus tiba-tiba tahu namamu. "Itu pacarnya Doyle." "Serius? Dia?" "Beruntung banget." Beberapa mahasiswi merasa iri. Yang lain memandangmu dengan sebelah mata. Tak ada yang tahu bahwa hubungan itu sebenarnya berawal dari taruhan. Taruhan yang dibuat Doyle dengan teman-temannya. Dan malam ini, taruhan itu akan berakhir. --- Pesta ulang tahun Doyle diadakan di sebuah rumah mewah yang khusus disewa malam ini. Musik mengisi halaman belakang. Lampu taman menerangi kolam renang besar. Mahasiswa populer memenuhi setiap sudut. Beberapa influencer kampus sibuk berfoto. Para atlet berkumpul di dekat bar. Mahasiswa lain menari di tengah halaman. Dan di satu sisi taman, ada enam orang laki-laki yang hampir mustahil untuk tidak dikenali. "The Calder Six." Enam mahasiswa yang tak hanya terkenal karena ketampanannya, tapi juga prestasi basket, keluarga, koneksi, serta pengaruh mereka di Universitas Ashcombe. Di antara mereka berdiri Cristobal Barrientos. Kapten tim basket. Ia mengenakan kemeja hitam dengan beberapa kancing atas terbuka. Blazer hitam masih menempel di tubuhnya. Ekspresinya datar. Seolah pesta ini sama sekali tidak menarik minatnya. Tapi sesekali.. pandangannya tertuju padamu. Hanya beberapa detik. Lalu kembali ke teman-temannya. "Lihat siapa sih?" Sebuah suara membuat Cristobal menoleh. "Nggak siapa-siapa." "Yakin?" Cristobal menatapnya dengan datar. "Ganggu aja." Temannya terkekeh. --- Beberapa menit kemudian, musik tiba-tiba mereda. Doyle naik ke sebuah panggung kecil di dekat kolam renang. "Semuanya, dengar sebentar!" Orang-orang perlahan berhenti bicara. Doyle tersenyum. "Terima kasih sudah datang ke pesta ulang tahunku." Sorak-sorai terdengar. Doyle lalu merangkul seorang perempuan di sebelahnya. Perempuan yang belum pernah kamu lihat sebelumnya. "Sebenarnya, aku mau kasih satu pengumuman." Pandangan Doyle lalu beralih ke arahmu. Senyumnya berubah. "Sepertinya hubunganku dengan dia..." Dia berhenti sejenak. "...selesai malam ini." Kerumunan langsung hening. Doyle tertawa pelan. "Jangan kaget." "Karena dari awal..." Dia mengelus bahu perempuan di sebelahnya. "...dia cuma taruhan saja." Beberapa orang langsung tertawa. Tidak semua. Seseorang di dekat bar berkata dengan cukup lantang kalau itu perbuatan bajingan. Doyle bicara menutup suara mereka. "Seriusan?" "Gila." "Kasihan banget." Doyle mengangkat bahu. "Aku cuma penasaran seberapa lama dia bakal percaya aku beneran peduli." Beberapa orang mulai berbisik-bisik. "Jadi selama ini cuma taruhan?" "Masuk akal sih." "Parah banget." Doyle tersenyum puas. "Dan sekarang aku menang." Dia lalu mendekatkan perempuan di sebelahnya. "Kenalkan." "Ini pacar asliku.. Nessa Corliss." Keramaian mulai pecah lagi. Beberapa orang mengeluarkan ponsel. Yang lain hanya menatapmu. Perempuan itu berjalan mendekat. Senyumnya tipis. "Aku nggak bermaksud kasar." Dia berhenti di depanmu. "Tapi kamu harus tahu kapan waktunya pergi." Lalu dia melangkah melewatimu di atas lantai keramik yang basah, dan ujung kolam tepat di belakang tumitmu. Kamu kehilangan keseimbangan. SPLASH! Tubuhmu jatuh ke kolam. Air dingin segera membasahi dan menenggelamkanmu. Gaunmu yang kuyup jadi makin berat. Suara musik di atas permukaan jadi samar. Penglihatanmu makin tidak fokus. Di atas kolam, kepanikan mulai terjadi. "Dia jatuh!" "Dia bisa berenang nggak?" "Cepat, tolong!" Tapi tak ada yang langsung melompat. Sebagian orang hanya berdiri menonton. Sampai— THUD. Sebuah blazer hitam jatuh ke lantai. Cristobal. Kapten basket itu berdiri di tepi kolam. Wajahnya masih datar. Tapi rahangnya mengeras. Tanpa bicara apa-apa... SPLASH! Cristobal melompat ke dalam kolam. Beberapa orang langsung terdiam. "Astaga..." "Cristobal lompat!" "Cristobal mau nolongin dia?" Di bawah permukaan air, Cristobal berenang ke arahmu. Tangannya meraih tubuhmu sebelum kamu tenggelam lebih dalam. Ia menarikmu ke atas. Lalu— "Pegangan sama aku." Suara Cristobal terdengar rendah di tengah bunyi air. Tangannya tetap menopangmu dengan mantap. "Jangan lepaskan."