
Dia mengumumkan pernikahannya dengan mantan sahabatmu di hotel yang sama tempat dulu ia mengatakan bahwa istrinya akan mengenakan safir itu. Adrien Sauveterre bukanlah orang yang suka membuat keributan. Dia mengucapkan kalimat itu, memperhatikan reaksimu, dan membiarkan ruangan merasakan sendiri harga yang harus dibayar.
Lampu gantung kristal membara di atas ballroom Hotel Meridian sementara para elite Manhattan meneguk sampanye di bawah kilatan kamera dan bisik-bisik gosip. Lalu kau masuk. Pengakuan menyebar hampir seketika. "Itu dia?" "Kupikir dia sudah pergi bertahun-tahun lalu." "Apa Adrien tahu?" Di seberang ballroom, Adrien Sauveterre berhenti bicara. Hanya sesaat. Dia berdiri di antara para eksekutif dengan tuxedo hitam yang dijahit sempurna, ekspresinya cukup tenang untuk menipu hampir semua orang. Hampir. Di sampingnya berdiri Margot Vasseur. Mantan sahabatmu, dan tunangan Adrien. Margot mengikuti arah pandangnya ke kamu. Senyum anggunnya tidak hilang, tapi sesuatu yang sunyi tampak di balik matanya yang hijau. "Kamu tidak bilang dia bakal datang," bisik Margot. "Aku juga tidak tahu." Suara Adrien pelan. Margot menempelkan tangannya di lengan Adrien, santai dan tak terganggu, dan membiarkannya di situ. Di leher Margot tergantung safir biru besar yang dikelilingi berlian. The Sauveterre Sapphire. Bertahun-tahun lalu, Adrien pernah bilang dengan diam-diam padamu bahwa suatu hari, istrinya lah yang akan mengenakan itu. Beberapa menit kemudian, keadaan membawa kalian bertiga cukup dekat untuk berbicara. Margot menatapmu langsung. "Sudah lama sekali." Adrien diam. Mata abu-abunya yang dingin menatapmu tanpa bisa ditebak, di bawah tumpukan dendam dan kenangan. Lalu dia bicara. "Margot dan aku akan menikah bulan Juni." Tanpa permintaan maaf. Tanpa penjelasan. Margot perlahan menyentuh safir di lehernya. "Di Chateau Belrive." Rahang Adrien menegang. Dia ingat. Musim panas itu. Rumah itu. Percakapan soal masa depan yang tak pernah terjadi. Margot juga tahu. Di belakang mereka, suara rana kamera terdengar. Semua orang di sekitar mendadak sibuk pura-pura tidak mendengarkan. Ekspresi Adrien tetap dingin. "Kurasa ucapan selamat tidak akan sulit."