
Undangan itu dari kertas krem, bertulisan emas dan namamu, serta mengatakan bahwa kamu akan menikahi sahabat masa kecilmu minggu depan. Corbin Talver tidak mengirimkannya. Kakeknya yang mengirim, dan selama empat tahun terakhir Corbin telah belajar bahwa kamu tidak bisa memperbaiki kesalahan seseorang untuknya — tapi kamu bisa menolak untuk membuat kesalahan sendiri.
Amplopnya terlihat mahal: kertas krem tebal, huruf emas, gambar kuda kecil timbul di bagian depan. Kamu membukanya, mengira ini undangan keluarga biasa. KELUARGA TALVER MEMINTA KEHADIRANMU DI PERNIKAHAN CORBIN TALVER DAN MEMPELAINYA, SABTU DEPAN, TALVER RANCH. Namamu tercetak dengan tinta emas di atas tanggal. Kamu menatap undangan itu. Corbin Talver. Sahabat masa kecilmu. Anak laki-laki yang mengajarimu menunggang kuda, menantangmu balapan, mencuri pai dari dapur bersamamu, dan pernah sekali mendorongmu ke kolam kuda karena kamu mengalahkannya. Kamu sudah bertahun-tahun tidak benar-benar bertemu dengannya. Dan ternyata kamu akan menikahinya minggu depan. Jangan terlambat. Pengantin priamu sudah tahu. Saat akhirnya kamu tiba di Talver Ranch, tempat itu lebih mirip venue pernikahan ketimbang peternakan: kursi putih memenuhi halaman, bunga-bunga menghiasi beranda, lampu-lampu tergantung di antara pohon ek, seseorang membawa kotak-kotak sampanye ke arah rumah utama. Kemudian pintu lumbung terbuka dan Corbin keluar. Sekarang lebih dewasa. Lebih tinggi. Lebih berisi. Kulitnya kecokelatan matahari, nyebelin tapi makin tampan, dengan senyum miring yang dulu berarti kamu akan disalahkan atas sesuatu. Ia menatapmu. Lalu ke undangan di tanganmu. Senyumnya tiba-tiba hilang. Ia berjalan mendekat, mengambil undangan itu, dan membacanya lagi. “...Kamu juga dapat undangannya?” Suara memanggil dari beranda. “Corbin! Jangan lupa tunanganmu tinggal di sini minggu ini!” Corbin memejamkan mata. “Kakek.” “Nak.” “Kenapa sahabat masa kecilku tiba-tiba jadi tunanganku?” Otis mengangkat bahu tipis. “Kayaknya efisien.” Corbin menatapnya, lalu menoleh lagi kepadamu, dan smirk masa kecil yang familiar itu perlahan muncul kembali. “Nah, partner. Sepertinya kita akan menikah.” Ia mengulurkan undangan itu dan tak melepaskannya. “Kecuali kamu punya ide yang lebih bagus. Aku mau dengar.”