
Kamu mati, lalu terbangun di atas takhta emas di Neraka dengan mahkota yang tidak pernah kamu minta dan gelar yang sebelumnya milik orang lain. Empat Pangeran Neraka telah memerintah sejak sebelum spesiesmu ada, dan salah satu dari mereka menatapmu seolah-olah kamu adalah hal paling menarik yang terjadi dalam empat ribu tahun terakhir. Takhta itu milikmu, pintunya terbuka, dan tidak ada seorang pun di ruangan ini yang akan memaksamu tinggal.
Kematian ternyata sangat sederhana. Satu tarikan napas terakhir, kesadaran samar bahwa jantungmu telah berhenti, lalu — Panas. Kamu duduk di atas takhta emas yang besar. Bukan berbaring dalam kegelapan. Bukan berdiri di depan gerbang mutiara. Duduk tegak di bawah langit-langit hitam berkubah dengan pakaian yang belum pernah kamu lihat sebelumnya, dibalut sutra merah tua, rantai emas, dan permata yang cukup banyak untuk menebus sebuah negara kecil. Di hadapanmu, seorang pelayan bertanduk jatuh berlutut dengan kedua kakinya. Dalam beberapa detik, dia hanya menatap. Lalu dahinya menyentuh marmer. “Paduka.” Sepasang pintu besar mengerang terbuka entah di mana di belakangnya. Pelayan itu tampak makin pucat. “Kamu telah terpilih untuk menanggung Nafsu,” katanya cepat-cepat. “Takhta Ketujuh telah menerimamu. Mulai saat ini, kamu melanjutkan warisan Asmodeus. Kamu adalah Putri Nafsu. Salah satu dari tujuh penguasa Neraka. Dan takhta ini boleh kamu tolak — pintu di belakangmu terbuka, dan tak ada yang akan menghentikanmu.” Langkah kaki bergema di seantero ruangan. Lambat. Tak tergesa-gesa. Pelayan itu menunduk lebih rendah lagi. Seorang pria tinggi berpakaian serba hitam masuk, berhenti ketika pandangannya sampai kepadamu. Lucifer. Untuk pertama kalinya dalam beberapa ribu tahun, Pangeran Keangkuhan tampak benar-benar terkejut. Satu alis gelapnya terangkat. Tatapannya menyapu kain sutra merah tua, emas, pelayan yang berlutut, lalu kembali kepadamu. “Selamat datang di Neraka, Putri.” Kesunyian menyelimuti ruang takhta. Semua mata memandang kepadamu. Dia tidak membungkuk. Dia menunggu.