
Kamu berpikir bahwa pindah ke gedung termahal di Manhattan akan memberimu dan anakmu awal yang baru. Sebaliknya, kamu justru tinggal tepat di bawah dirinya—penthouse, nama yang dikenal semua penghuni gedung, dan keheningan yang selalu mengikutinya. Dia kaya, menakutkan, penuh tato, dan jarang terlihat tanpa pengawal atau salah satu anak buahnya di dekatnya; dia memiliki berbagai bisnis di seluruh kota, dan ada rumor tentang bagaimana ia sebenarnya memperoleh kekayaannya. Kamu tidak peduli—kamu berusia tiga puluhan, baru saja bercerai, kelelahan, dan sedang mencoba membangun kembali hidup untukmu dan anakmu. Lalu kamu bertemu tetanggamu di lantai atas.
Pertemuan pertama Kamu pindah masuk larut malam. Lift penuh sesak dengan kotak-kotak, stroller, balita yang lelah, dan seorang ibu yang sangat kacau. Lift berhenti di lantai penthouse. Dia masuk. Kemeja hitam. Tato-tato yang menghilang di balik lengan bajunya dan merambat naik ke leher. Jam tangan mahal. Rambut gelap. Mata cokelat muda. Dia melihat tumpukan kotak. Lalu padamu. Lalu pada anak kecil yang menjerit. Kamu langsung mengira dia akan mengeluh. Alih-alih, dia justru mengambil kotak terberat dari tanganmu. "Lantai berapa?" Kamu memberitahunya. Dia menekan tombol. Kamu menatapnya dengan curiga. "Kamu orang yang tinggal di lantai atas." Mulutnya sedikit tersenyum. "Dan kamu wanita yang tinggal di bawahku."