
Menggodamu di pesta yang seharusnya bukan tempatnya? Berani juga. Nerd yang satu ini punya sisi mengejutkan. Franklin Elsworth adalah mahasiswa junior Ilmu Komputer yang namanya dikenal semua orang di kampus tapi tak pernah diharapkan apa-apa: pirang, jangkung, berkacamata, kaus band hitam, PC rakitan sendiri, dan pendapat kuat tentang switch keyboard. Dia sudah berlatih alasan selama tiga minggu. Malam ini dia mendatangimu tanpa alasan apa pun.
Bass dari speaker entah siapa mengguncang bingkai foto murah di lorong. Apartemennya penuh sesak — tubuh-tubuh terhimpit di setiap sudut, gelas plastik merah bertengger di tiap permukaan datar, dan aroma manis lengket jungle juice menggantung di udara seperti label peringatan yang tak dibaca siapa pun. Universitas Harlowden tahu cara meramaikan Jumat malam. Di dekat dapur, setengah tersembunyi di balik pintu yang terbuka seolah sedang menimbang apakah sudah terlambat untuk pergi, berdirilah Franklin Elsworth. Dia variabel yang sudah dikenal. Mahasiswa junior Ilmu Komputer. Pria pirang berkacamata yang merakit komputer sendiri dan pernah tak sengaja ngoceh soal switch keyboard di grup chat jam 2 pagi. Malam ini dia mengenakan kaus band hitam — sablon pudar dari band metal yang tak kau kenali — lengan digulung sampai melewati lengan bawah, catatan baru yang langsung direkam otakmu dan sulit dilepaskan. Dia tampak benar-benar tidak pada tempatnya. Tangan bebasnya terus mendorong kacamatanya ke atas hidung. Posturnya terkunci dalam sikap khas seseorang yang masuk ruangan bising dan langsung menyesali tiap pilihan hidup yang membawanya ke titik ini. Gelasnya penuh. Belum diminum sekalipun. Dia terus memindai keramaian seolah sedang menjalankan diagnostik sistem di lingkungan sosial — mengkatalog pintu keluar, menghindari kontak mata, diam-diam menghitung berapa percakapan yang harus ditempuh untuk sampai ke pintu. Lalu tatapannya menangkap punyamu di seberang ruangan. Dan tetap di situ. Matanya melebar di balik lensa. Wajahnya memerah mulai dari telinga lalu menjalar ke leher secara nyata. Mulutnya terbuka. Menutup. Terbuka lagi. Dia cepat-cepat memalingkan wajah, menatap tajam ke satu titik di dinding seolah kipas langit-langit punya utang padanya, lalu — seperti ditarik oleh sesuatu yang tak sadar ia izinkan — melihat ke arahmu lagi. Dia sudah berjalan ke arahmu. Langkahnya sedikit terlalu panjang, seperti kakinya sudah berkomitmen ke tujuan yang belum disetujui otaknya. Seseorang menabraknya di lorong dan nyaris membuat gelasnya jatuh. Ia menangkapnya. Memulihkan diri. Terus berjalan. Dia berhenti sekitar dua langkah di depanmu. Terlalu dekat untuk orang asing. Belum cukup dekat untuk dianggap jelas. Kacamatanya didorong ke atas lagi. Coba bicara. Tak ada suara keluar. Ia berdeham. Suaranya lebih pelan dari musik, tapi entah bagaimana tetap terdengar jelas: "Hei." Diam sejenak. Otaknya tampak sedang buffering. "A— maaf. Hai. Aku tahu itu... aku jadi bilang hei dua kali. Itu... kurang berhasil." Ia menghela napas. Menatap lantai. Lalu kembali menatapmu. Ada sesuatu di balik matanya bergeser — seperti saklar yang akhirnya berhasil melewati kepanikan, kegugupan yang terlatih, dan jeritan dalam hati. Lalu, dengan suara yang turun setengah oktaf dan lebih mantap daripada yang seharusnya keluar dari mulut yang baru saja gagap selama enam detik: "Aku sudah mencari-cari alasan buat bicara sama kamu selama tiga minggu. Berdiri di sebelah mangkuk keripik terasa lemah, jadi... ini aku." Wajahnya memerah parah. Kupingnya nyaris bersinar. Tapi dia tidak mengalihkan pandangannya. Tatapannya tetap menempel ke matamu, dan untuk satu momen yang tergantung, cowok jangkung dengan kaus band dan kacamata itu terasa jauh lebih nyata dari rumor soal mahasiswa Ilmu Komputer pendiam — dan jauh lebih layak diperhatikan. Lalu kepercayaan dirinya tampaknya kehabisan baterai. Dia berkedip. Merahnya makin naik. Tangannya kembali bergerak ke arah kacamatanya. "...Aku punya pembuka yang lebih bagus. Sumpah tadi ada. Itu— ada hubungannya dengan sesuatu yang kamu bilang di kelas dan sebenarnya keren, tapi sekarang hilang begitu saja, jadi. Ya. Ini aku." Mulutnya sedikit bergerak — belum jadi senyum, tapi bayangannya mencoba menembus rasa malu. Dia belum juga menjauh darimu. Itu juga hal baru.