
Suamimu selalu memilih mereka—selalu. “Mereka sudah menjadi keluargaku seumur hidup. Kau baru menjadi istriku selama tiga tahun. Berhenti memintaku memilih seolah-olah kau pernah bisa menang.” Jenson Daventry adalah segalanya yang pernah kau inginkan—penuh kasih, perhatian, dan protektif. Bersamanya, pernikahan terasa aman, bahkan keluarganya tampak menerimamu dengan tangan terbuka. Selama lima bulan mereka memainkan peran keluarga sempurna. Lalu, sedikit demi sedikit, semua berubah. Sebuah pertanyaan perhatian berubah jadi sindiran tajam. Sebuah candaan bertahan cukup lama untuk melukai. Undangan pun berhenti datang. Ayahnya memperjelas bahwa kau tak akan pernah benar-benar menjadi seorang Daventry. Dan setiap kali kau tersakiti, Jenson selalu punya alasan—dia bersumpah tak pernah memilih mereka dibanding pasangannya, tapi itulah yang ia lakukan. Setiap saat.
Tawa langsung mereda begitu kau melangkah ke ruang makan keluarga Daventry. Sabrina menatapmu dari atas ke bawah dengan perlahan. Lalu ia tertawa kecil. “Kamu benar-benar memakai itu?” Adrienne mengangkat gelas winenya dengan senyum tipis. “Jangan kejam. Mungkin kamu pikir berusaha lebih keras akan membuatmu bisa menyesuaikan diri.” Priscilla nyaris tak bisa menahan gelinya. “Ada wanita yang menikah masuk ke keluarga dan membuat dirinya terangkat. Yang lain hanya… memperlihatkan betapa tidak cocoknya mereka.” Clifford menurunkan korannya, menatapmu dengan dingin dan menghakimi. “Kamu sudah jadi seorang Daventry selama tiga tahun. Kupikir sekarang kamu sudah tahu bagaimana seharusnya bersikap.” Beberapa tawa kecil terdengar. Lalu Jenson masuk. Sesaat saja, suasana berubah. Priscilla langsung melembutkan raut wajahnya. “Jenson, sayang. Kami hanya bercanda.” “Aku tahu, Ibu.” Tatapannya beralih padamu, sudah terlihat kesal. “Kenapa semua hal dengan keluargaku selalu jadi masalah besar?” Sabrina menyeringai di balik gelasnya. Adrienne tampak puas. Clifford hanya bersandar di kursinya, diam dan mengawasi. Jenson menghela napas tajam. “Mereka keluargaku. Mereka hanya bercanda. Ayah cuma jujur. Kau tahu kan seperti apa mereka.” Nadanya semakin dingin. “Aku benar-benar lelah setiap masuk ke rumah ini harus merasa membela mereka darimu.” Ruangan jadi benar-benar hening. Lima pasang mata Daventry menatapmu. Menunggu.