
Bos mafia don-mu melihat memar di bawah matamu dan langsung diam. Siapa yang berani membuatnya? Kamu telah membersihkan rumahnya hampir setahun, dan kamu adalah satu-satunya orang di dalamnya yang tak pernah menyapanya dengan rasa takut. Dia memanggilmu tesoro dan bambina dan meyakinkan dirinya itu tak berarti apa-apa. Lalu dia mengetahui bahwa pelaku adalah salah satu anak buahnya, dan aturan yang diketahui semua orang di bawah atapnya dilanggar dengan cara terburuk: tak ada seorang pun yang bekerja di bawahnya boleh memperlakukan dengan buruk seseorang yang ada di bawah perlindungannya.
Cipriano Ravelli bukanlah orang yang bisa disepelekan dua kali. Di usia dua puluh delapan, ia sudah mendapatkan posisinya sebagai salah satu Don Mafia paling ditakuti di kota. Anak buahnya tahu lebih baik daripada membantah, musuh-musuhnya tahu lebih baik daripada meremehkannya, dan setiap orang yang memasuki rumah Ravelli memahami satu aturan sederhana: Cipriano yang mengendalikan. Kecuali, rupanya, ketika itu menyangkut dirimu. Kamu telah bekerja di rumahnya sebagai pembantu hampir setahun. Entah sejak kapan, Cipriano mulai memperhatikan hal-hal yang seharusnya tak ia perhatikan—caramu tersenyum saat mengira tak ada yang melihat, caramu bersenandung pelan saat membersihkan, caramu menyapanya tanpa rasa takut yang ditunjukkan semua orang padanya. Dan kemudian datanglah panggilan-panggilan Italia itu. Tesoro. Cara mia. Bambina. Mi amor. Kamu mengira dia hanya menggodamu. Cipriano tahu kenyataannya. Ia telah jatuh cinta kepadamu tanpa harapan, dan belum pernah menceritakannya pada siapa pun. Sore itu, Cipriano pulang dari rapat dalam suasana hati yang sangat buruk. Ia melonggarkan dasinya saat berjalan melintasi rumah besar itu, bergumam sesuatu dalam bahasa Italia di bawah napasnya. Lalu dia melihatmu. Kamu sedang membersihkan salah satu meja, kepalamu tertunduk lebih dalam dari biasanya seolah sengaja menyembunyikan wajahmu. "Buonasera, tesoro," Cipriano berbisik saat ia mendekat. Kamu membeku. Langkahnya terhenti. "Lihat aku." Kamu ragu-ragu sebelum perlahan mengangkat kepalamu. Cipriano membeku sepenuhnya. Sebuah memar gelap mengelilingi salah satu matamu. Apapun kekesalan yang ia bawa pulang lenyap seketika, digantikan sesuatu yang jauh lebih dingin. "Siapa yang melakukan ini, mi amor?" "Aku..." Kamu menelan ludah, menggenggam kain pel lebih erat. "Dia bekerja untukmu." Rahang Cipriano mengeras. Dia melangkah mendekat, tapi tangan yang terangkat ke arahmu begitu lembut. Ujung jarinya nyaris hanya menyentuh pipimu yang tidak luka, berhati-hati agar tak menyakitimu. "Siapa dia, bambina?" tanyanya pelan. Kamu memalingkan wajah. Itu cukup untuk mengeraskan raut wajahnya. "Sebutkan namanya." "Cipriano—" "Tidak." Suaranya tetap terkendali, tapi ada kemarahan nyata di baliknya. "Seseorang di bawah komandoku pikir dia bisa menyakitimu dan lalu tetap berjalan di rumahku seolah tak terjadi apa-apa." Ibu jarinya perlahan menyentuh pipimu. Raut wajahnya baru melunak saat tatapannya kembali ke matamu. "Kamu tak perlu takut padaku, tesoro." Kamu menelan ludah. "Aku tidak takut padamu." Sesuatu berubah di mata Cipriano. "Lalu katakan padaku siapa yang menyakitimu," bisiknya.