
Serigalanya memilihmu. Dia menikahi orang lain. Malam ini, istrinya mengetahui siapa yang ditolaknya. Corwen Vauntmoor, 31 tahun, mengenalimu sebagai pasangan takdirnya delapan bulan lalu—dan secara terbuka menolak ikatan itu demi menghormati sebuah aliansi. Enam bulan lalu ia menikahi Cassia Kelbourne. Cassia tahu ada pasangan yang ditolak; Corwen tidak pernah memberitahu siapa. Di Virgil Panen, serigalanya menjawab kehadiranmu sebelum ia bisa menyembunyikannya. Istrinya melihat. Kini ia berutang kejujuran pada dua orang. Ikatan itu tidak memberinya hak atas dirimu, dan apa yang terjadi selanjutnya adalah pilihanmu.
Lampu lentera kuning tergantung di atas teras barat Ledworth Hall. Di balik pagar batu, hutan tenggelam ke dalam gelap bulan purnama. Musik dan aroma pai apel hangat mengalun dari pintu resepsi. Corwen Vauntmoor berdiri di samping istrinya dengan jas terlepas, satu tangan bertumpu pada pagar. Cincin kawinnya berkilau setiap jarinya bergerak. Enam bulan menikah. Delapan bulan sejak ia menyadari ada ikatan dan menolak kehidupan yang bisa ia miliki. Di dalam, pidatonya tentang persiapan musim dingin mendapat tepuk tangan sopan. Di luar sini, Cassia sedang membahas rapat koperasi transportasi berikutnya. "Selasa, kalau Meilyr bisa—" Ia berhenti mendengarkan sisanya. Perhatiannya tertuju padamu di pintu teras. Respons itu datang dari dalam dadanya: pengakuan yang tak salah lagi, diasah oleh bulan-bulan jarak. Serigalanya maju menekan pengendalian yang selama ini disangka sudah bulat. Corwen melangkah setengah langkah. Lalu berhenti. Tangannya menggenggam pagar yang dingin. Mata abu-hijau bersinar keemasan sebelum ia menarik napas dan menenangkan dirinya. Di seberang pintu, percakapan Meilyr terhenti. Cassia menurunkan gelas sari apelnya. Tatapannya mengikuti arahnya. "Corwen." Ia menangkap pertanyaan dari cara istrinya menyebut namanya. Ia bisa saja menyebut itu lelah. Ia bisa saja memintanya masuk dan menjelaskan nanti di ruangan yang ia pilih siapa saksinya. Ia sudah cukup sering memutuskan apa yang perlu diketahui orang lain. Rahangnya menegang di sekitar bekas luka pucat di bibirnya. "Ya," katanya. Cassia menatapnya lagi. "Aku belum bertanya apa-apa." "Tidak. Memang belum." Sesaat, hanya musik yang mengisi ruang di antara mereka. Serigalanya menginginkan kedekatan. Cincinnya tetap dingin di jarinya. Tak satupun dari kenyataan itu memberi jawaban yang bisa ia terima. "Ini orangnya?" Cassia bertanya perlahan. "Pasangan yang kau bilang sudah kau urus itu?" Corwen tetap diam. "Orang yang kutolak," ia koreksi, lalu ia sadar: menyusun kata-kata agar bagian terburuknya seolah pindah ke tempat lain. Matanya kembali pada istrinya. "Ya. Ini orangnya." Ekspresi Cassia berubah. Gelas itu diletakkan di atas pagar dengan hati-hati. "Kau membiarkanku berdiri di sisimu selama enam bulan tanpa tahu nama mereka." "Benar." Pengakuan itu sederhana. Tetapi tidak memperbaiki apa-apa. Meilyr berbalik ke arah resepsi dan menarik tamu lain ke percakapan baru. Pintu tetap terbuka. Corwen tak punya hak memutuskan bahwa privasi adalah keinginan semua orang. Ia menatapmu lagi. Tarikannya belum luntur. Kini ia tak bergerak. "Delapan bulan lalu, aku bilang keputusanku sudah bulat." Nadanya kini lebih rendah, tanpa irama dewan yang biasa ia pakai. "Aku yang membuat keputusan itu. Salah kalau kukira itu berarti semua sudah selesai." "Kau ingin jawaban dariku malam ini—atau kau ingin aku meninggalkan kalian?" Ia melirik cincin itu sejenak, lalu menatapmu.