
Selama berbulan-bulan, kamu merasa seseorang mengawasimu. Kamu benar. Pesan-pesan aneh. Langkah kaki di belakangmu. Perasaan bahwa seseorang telah masuk ke apartemenmu. Tapi pria yang menguntitmu membuat satu kesalahan yang sangat serius. Dia pikir dia satu-satunya. Levin Vandry telah mengawasimu jauh lebih lama. Dia tahu di mana kamu tinggal. Tempat kerjamu. Apa yang kamu pesan saat lelah. Malam-malam mana kamu lupa mengunci pintu balkon. Teman-teman mana yang kamu hubungi saat sedang kesal. Dia tahu segalanya. Dan tidak seperti pria yang akhirnya masuk ke rumahmu... Levin tidak pernah bermaksud menakutimu. Dia memang berniat menunggu. Jadi ketika penguntitmu akhirnya bertindak, Levin sudah ada di dalam. Menunggu dia. Pada saat kamu sadar kamu telah diselamatkan, hanya tersisa satu pertanyaan: Siapa sebenarnya yang baru saja menyelamatkanmu? Levin tidak berniat berbohong. "Aku sudah mengawasimu sejak bulan November. Yang satunya mulai bulan April." Ternyata, penguntitmu juga punya penguntit.
"Jangan teriak." Selama berminggu-minggu, kamu berkata pada diri sendiri bahwa semua ini hanya khayalan. Langkah kaki yang seolah mengikutimu setengah blok sebelum menghilang. Mobil asing yang sama muncul dua kali di tempat yang seharusnya tidak ada. Pesan dari nomor tak dikenal yang tak pernah cukup jelas untuk jadi bukti, tapi entah kenapa selalu datang saat kamu sedang sendirian. Lalu, hal-hal di apartemenmu mulai terasa aneh. Laci dapur yang sedikit terbuka. Pintu balkon yang tidak terkunci padahal kamu yakin sudah menguncinya. Suatu kali, bau parfum pria yang sangat jelas tercium di kamarmu, padahal tidak ada siapapun yang diundang masuk. Kamu mengganti kunci. Tiga hari berikutnya, tidak terjadi apa-apa. Malam keempat, kamu membuka pintu depan dan akhirnya tahu kalau selama ini rasa paranoid bukanlah masalah utamamu. Ada seorang pria berdiri di tengah ruang tamumu. Emmett Larkin. Kamu hanya samar-samar mengenalinya awalnya—pria tampan yang beberapa kali kamu lihat di kedai kopi yang sama, pria yang pernah tersenyum padamu di lorong buah supermarket, yang memperkenalkan diri dengan sopan, cukup biasa hingga kamu tak pernah memperhatikan lebih jauh. Suara Emmett hampir terdengar lembut, yang entah kenapa justru membuat perintahnya semakin menakutkan. Dia berdiri di antara kamu dan lorong, menatapmu dengan frustrasi lelah milik orang yang percaya dirinya telah menunggu terlalu lama untuk sesuatu yang pantas ia dapatkan. "Aku sudah mencoba bersabar. Aku sudah mencoba membiarkanmu sadar sendiri. Kamu tahu nggak sih betapa susahnya kamu bikin semua ini?" Ekspresinya mengeras saat kamu bergerak. "Jangan." Peringatannya kini tak lagi lembut. "Kamu keluar dari pintu itu, aku seret kamu balik ke dalam. Kamu ambil ponsel, aku hancurkan. Kamu teriak, aku pastikan tak ada orang yang datang sebelum aku selesai jelaskan persis bagaimana malam ini akan berlangsung." Emmett melangkah satu langkah ke arahmu. "Kamu seharusnya sadar sama aku." Dari lorong gelap dekat kamarmu, terdengar desahan panjang, terdengar sangat tidak terkesan. "Aduh, untuk apa sih ini semua." Emmett membeku. Segalanya ikut diam. Levin Vandry melangkah santai keluar dari lorong gelap itu, berbaju serba hitam, tampak lebih seperti seseorang yang malamnya sedikit terganggu daripada orang yang baru menemukan penyusup. Emmett menatapnya. "Siapa lo, anjir?" Levin menatapmu dulu, matanya yang gelap menyapumu cepat seolah memeriksa luka, lalu kembali ke arah Emmett. "Jawaban kenapa kamera di seberang jalan tiba-tiba rusak." Wajah Emmett langsung berubah. Levin tetap tak berubah. "Aku sudah mengawasimu mengawasinya selama berbulan-bulan." "Kamu juga ngikutin dia?" "Jangan sok tersinggung. Malu-maluin tahu." Untuk pertama kalinya, Levin terlihat hampir terhibur. "Kamu mulai April." Dia memiringkan kepala. "Aku mulai tahun lalu, bulan November." Keheningan setelahnya benar-benar absurd. Emmett menatapmu dan Levin bergantian, seolah sedang berusaha menerima kenyataan bahwa perempuan yang diam-diam dia obsesikan ternyata diam-diam juga punya pria obsesif lain tanpa dia tahu. "Lo gila sih." Mulut Levin berkedut. "Itu tuduhan cukup kompetitif untuk orang yang berdiri tanpa diundang di ruang tamu orang lain." Emmett bergerak mendekatimu. Seluruh sikap Levin langsung berubah. "Jangan." Kata itu tak ada candaan sedikit pun. Levin berdiri di antara kalian dengan ketenangan seseorang yang seolah sudah merencanakan semua kemungkinan akhir konfrontasi ini. "Kamu sudah ikuti dia pulang tujuh belas kali. Kirim tiga puluh delapan pesan dari enam nomor. Duduk depan gedungnya sebelas jam hari Selasa kemarin dan tampaknya selama itu kamu cuma meyakinkan diri kalau malam ini ide bagus." Emmett menatapnya. "Kok lo tahu segitu detailnya?" "Karena saat kamu mengawasi dia—" Levin maju selangkah lagi. "—aku mengawasimu." Percaya dirinya Emmett mulai retak. Yang terjadi berikutnya cepat dan kotor, jauh dari dramatis. Emmett menerjang; Levin langsung menahan, dan dalam hitungan detik konfrontasi berakhir dengan Emmett di lantai, Levin berdiri di atasnya, jauh lebih tidak sabar daripada awalnya. Levin berjongkok di sampingnya. "Jangan pernah hubungi dia lagi." Emmett tertawa terengah. "Lo pikir lo lebih baik dari gue?" "Nggak." Jawaban Levin langsung. "Makanya kamu harus anggap aku serius." Sayup-sayup sirene terdengar dari kejauhan, dan Levin berdiri ketika Emmett memanfaatkan momen itu untuk merangkak ke pintu balkon yang terbuka. Levin bisa saja mengejar. Dia tidak lakukan. Perhatiannya sudah kembali padamu. Hampir setahun, Levin Vandry tahu jam berapa kamu bangun, kopi favoritmu, jendela mana yang kamar tidurmu, dan seberapa sering kamu lupa kunci pintu balkon. Kamu bahkan tidak tahu namanya. Sampai malam ini. Levin merapikan lengan bajunya dan menatap ke sekeliling apartemen seolah menilai kerusakan properti yang sebenarnya dia sama sekali tak punya hak untuk merasa memilikinya. "Sebelum kamu tanya, iya. Dia memang menguntit kamu." Pandangan Levin kembali ke arahmu. "Dan ya, aku juga." Bahkan tanpa perasaan malu. "Bedanya aku jauh lebih baik melakukannya." Levin merogoh sakunya, mengeluarkan kunci cadanganmu yang hilang dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja di antara kalian. Ekspresinya tetap sangat tenang. "Sepertinya kamu harus ganti kunci lagi." Hening sebentar. "Aku lebih suka yang sebelumnya."