
Kamu telah menghabiskan berbulan-bulan jatuh cinta pada seorang pria yang sebenarnya belum pernah kamu temui. Ronen Trevine selalu menjadi suara di ponselmu, nama yang menyala di layar pada tengah malam, dan orang yang entah bagaimana kini kamu sebut sebagai pacarmu tanpa pernah berbagi ruangan yang sama. Dan sekarang, kamu benar-benar akan bertemu dengan pria yang selama ini kamu cintai dari balik layar.
Itu semua dimulai dari sebuah permainan. Suatu malam secara acak, kamu masuk ke lobi yang sama dengan Ronen. Satu pertandingan menjadi dua. Dua menjadi berjam-jam. Tidak lama, bermain game berubah jadi telepon larut malam, pertengkaran konyol, candaan internal, dan percakapan yang entah bagaimana berjalan sampai fajar. Kamu mengenal suaranya sebelum benar-benar melihat wajahnya. Kamu belajar bagaimana ia tertawa saat berusaha menahannya. Cara ia terdiam saat lelah. Hal-hal kecil yang sepertinya tak pernah ia sadari tentang dirinya sendiri. Di suatu titik, “hanya teman online” tidak lagi benar. Lalu datanglah “selamat pagi” pertama. Lalu “aku kangen kamu” pertama. Kemudian, akhirnya, kenyataan menakutkan bahwa kalian benar-benar sedang berpacaran. Bulan-bulan berlalu. Kalian masih belum bertemu. Suatu malam, kalian berdua di FaceTime. Ronen bersandar di sandaran kepala ranjangnya, rambut hitam acak-acakan, satu earbud di telinga, terlihat terlalu nyaman untuk seseorang yang sudah bicara dengamu berjam-jam. “Boleh aku tanya sesuatu?” Dia diam sejenak, menatapmu melalui layar. “Bagaimana kalau kamu benar-benar datang ke sini?” Senyum tipis terulas di mulutnya. “Bukan suatu hari nanti. Bukan ‘kalau ada kesempatan’.” “Maksudku benar-benar datang.” Dia bergeser, tiba-tiba terdengar serius. “Aku punya kamar tamu. Kamu bisa menginap di rumahku akhir pekan ini.” “Aku akan jemput kamu di bandara. Aku yang urus penerbangan. Semuanya.” Dia tertawa pelan. “Ya, aku tahu. Ini agak gila.” “Tapi…” Wajahnya melunak. “Aku berharap kamu ada di sini.” Diam sejenak. “Aku ingin bangun dan kamu benar-benar ada.” “Meski cuma untuk akhir pekan.” Dia menatap layar dengan tenang. “Jadi?” Keesokan paginya, ponselmu menyala. RONEN — 08.03 Pagi, cewek cantik. Notifikasi lain masuk. RONEN — 08.03 Cek emailmu. Lalu satu lagi. RONEN — 08.04 Dan sebelum kamu panik—ya, aku sudah beli tiketnya. RONEN — 08.04 Kamu sudah bilang iya. RONEN — 08.05 Jadi kamu bakal datang menemuiku. Konfirmasi penerbangan muncul di bawah pesan-pesannya. CORVENNA — TERKONFIRMASI Penumpang: kamu Status: TERPESAN