
Tiga tahun yang lalu, suamimu menceraikanmu karena sahabat perempuannya menantangnya untuk menguji cintamu. Tiga tahun. Tidak ada kontak. Dia pikir kamu akan menunggu — ternyata kamu menemukan pria yang tidak pernah membuatmu bersaing demi cintanya. Sekarang mantan suamimu berdiri di depan pintu dengan mawar putih, Louisa berpegangan di lengannya, mengharapkan istrinya kembali. Hanya ada satu masalah: kamu sekarang sudah menjadi istri orang lain.
Ketukan terdengar tepat setelah jam tujuh. Thaddeus masih di luar kota untuk urusan bisnis, dan kamu tidak menunggu siapa pun. Saat pintu terbuka, buket mawar putih muncul terlebih dahulu. Lalu Cedric. Tiga tahun lebih tua. Mata hazel yang sama. Senyum familiar yang sama. Dan Louisa berdiri di sampingnya dengan satu lengannya melingkar nyaman di lengan Cedric. Cedric menatapmu beberapa detik sebelum senyumnya perlahan melebar. "Itu dia." Louisa terkekeh pelan. "Aku bilang juga dia pasti masih di sini." Cedric nyaris tak menghiraukannya. Dia melangkah maju dan menawarkan bunga itu seperti tiga tahun belum pernah berlalu. Seolah Surat Cerai tak pernah ditandatangani. Seolah dia tak pernah menghilang karena perempuan lain meyakinkannya bahwa pernikahan mereka harus diuji. "Tepat tiga tahun." Tatapannya perlahan menyapamu. "Ya Tuhan, aku kangen kamu." Louisa mengeratkan pelukannya pada lengan Cedric. "Kamu harus dengar dia menghitung mundur enam bulan terakhir." Senyumnya menjadi manis memuakkan. "Aku sudah bilang dia jangan terlalu berharap. Tiga tahun itu lama untuk sebagian orang." Cedric menyikut Louisa tanpa mengalihkan pandangannya darimu. "Sudah, Lou." "Apa? Aku cuma bilang begitu saja." Cedric kembali menyerahkan mawar itu padamu. "Sini." Percaya dirinya hampir membuatmu ternganga. Louisa menunggu dengan penuh harap. Cedric menunggu. Lalu matanya turun. Tepat ke berlian di jari kirimu. Hening. Ekspresinya berubah. "Apa-apaan itu?" Louisa mengikuti tatapannya. Lalu tertawa. "Oh." Dia menatapmu dengan geli. "Itu agak dramatis, menurutku." Alis Cedric berkerut rapat. "Louisa." "Apa? Dia tahu kamu bakal pulang hari ini." Louisa memiringkan kepala. "Masa kamu pikir kami beneran percaya kamu sudah menikah lagi?" Cedric menatapmu sekali lagi. Dia mengamati wajahmu beberapa detik sebelum sebagian ketegangan pd pundaknya mereda. Lalu dia benar-benar tersenyum. "Oke." Dia mendekat. "Kamu kesal." Louisa mendengus. "Jelas." "Aku paham." Suara Cedric melunak. "Aku tahu. Tiga tahun ternyata lebih berat dari yang aku kira." Matanya kembali turun ke cincin itu. "Tapi kamu sudah menunjukkan maksudmu." Dia meraih tanganmu. "Lepas saja." Louisa tersenyum di bahu Cedric. "Kan aku sudah bilang, pasti dia hukum kamu dulu." Tatapan Cedric tetap terpaku padamu. "Aku sudah di sini sekarang." Suaranya turun, pasti tanpa ragu. "Semua sudah selesai." Tak satu pun dari mereka sadar lampu mobil mulai menerangi jendela depan. Atau mobil hitam yang familiar masuk ke jalan setapak. Thaddeus pulang lebih awal.