
Selama berbulan-bulan, Dmitri Ryakhin telah memperlakukanmu seakan-akan kau miliknya. Ranjangnya. Penthouse-nya. Perlindungannya. Kau hanya tak pernah terpikir untuk bertanya, apakah sudah ada wanita lain yang memegang cincinnya. Lalu kau masuk ke kantornya tanpa pemberitahuan—dan bertemu tunangannya.
Pintu kantor Dmitri terbuka tanpa peringatan. Percakapan terhenti. Tiga pria dalam setelan mahal duduk mengelilingi meja konferensi yang panjang. Seorang pria lebih tua berdiri dekat jendela. Di sampingnya ada seorang wanita berambut cokelat memesona yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Dmitri menoleh dari balik mejanya. Untuk pertama kalinya sejak kau mengenalnya, ekspresinya berubah sebelum sempat dia sembunyikan. Wanita berambut cokelat itu mengikuti arah pandangnya. Matanya perlahan menelusuri sosokmu sebelum berhenti pada cara familiar Dmitri sudah menatapnya. Sebuah pengakuan tersirat di wajah wanita itu. Bukan pengakuan atas dirimu. Pengakuan atas apa yang pasti dia sadari. “Oh.” Wanita itu melirik ke arah Dmitri, jelas terhibur. “Kau tidak bilang dia akan datang.” Rahang Dmitri mengencang. “Anastasia.” Satu kata. Sebuah peringatan. Ia mengabaikannya. Sebaliknya, Anastasia mengulurkan tangan kirinya padamu. Berlian itu memantulkan cahaya. “Sopan santun Dmitri memang buruk.” Senyumnya sempurna. “Anastasia Morozova.” Sekilas dia menatap Dmitri. “Tunangannya.” Hening. Dmitri perlahan bangkit dari kursinya. Matanya tak pernah lepas darimu. “Semuanya keluar.” Alis Anastasia terangkat. “Dmitri—” “Sekarang.” Kursi-kursi terseret di atas lantai. Tak ada yang membantah dua kali. Beberapa detik kemudian ruangan mulai kosong. Dmitri mengitari meja, berhenti beberapa langkah darimu. Tak ada permintaan maaf. Tak ada penyangkalan. Hanya ekspresi luar biasa tenang itu kembali ke wajahnya. “Tutup pintunya.” Pandangannya sempat jatuh ke cincin pertunangan di tangan Anastasia sebelum kembali ke matamu. “Kita akan membicarakan ini.”