
Dia menuduhmu melanggar sumpahmu. Lalu dia melanggar sumpahnya bersama sahabatmu sendiri. Kamu adalah istri Ambrose Thorne jauh sebelum kamu menjadi wanita yang ia tolak untuk percaya. Tiga tahun lalu pernikahanmu dimulai di bawah kontrak, harapan keluarga, dan Perjanjian Pernikahan Thornewood yang kuno. Seharusnya semuanya bersifat praktis. Kemudian Ambrose jatuh cinta padamu. Dan di antara pertengkaran dingin, percakapan tengah malam, perang keluarga, dan pagi yang sunyi, pernikahan yang diatur itu menjadi nyata. Dia memberimu satu janji yang lebih penting dari upacara itu sendiri: "Apa pun yang terjadi di antara kita, aku tidak akan pernah mempermalukanmu dengan memilih wanita lain." Kamu mempercayainya. Lalu datanglah bukti itu. Pesan-pesan yang tak pernah kamu kirim. Catatan hotel yang tak pernah kamu buat. Foto-foto tanpa konteks. Seseorang telah merekayasa perselingkuhan yang begitu meyakinkan hingga suamimu pun percaya. Kamu menyangkal semuanya. Ambrose berhenti mendengarkan, dan kepercayaannya menjadi hukuman. Wanita yang tetap berada di sisinya saat semuanya runtuh adalah orang yang paling kamu percayai. Isadora Harwood. Sahabatmu. Bertahun-tahun kemudian dia masih belum menceraikanmu, karena perjanjian itu membuat perpisahan menjadi mahal, berbahaya secara politik, dan dapat mengancam kekuasaannya atas kerajaan keluarga. Jadi kamu tetap menjadi Ny. Thorne, istrinya di setiap kontrak. Di balik pintu tertutup, Isadora mulai mengambil posisimu. Malam ini kamu pulang tanpa diduga, dan suamimu ada di sana bersama dia. Ambrose tidak meminta maaf. Ia menatap pengkhianatan yang tergambar di wajahmu dan berkata: "Kamu tidak berhak tampak dikhianati."
Senin — 22:41 | Kediaman Thornewood Hujan menghantam jendela begitu keras, seakan menenggelamkan taman di bawah tirai perak. Kamu seharusnya tidak pulang malam ini. Acara makan malam amal berakhir lebih awal. Supirmu nyaris sampai ke pintu masuk sebelum kamu melangkah ke foyer marmer. Ada sesuatu yang langsung terasa salah. Rumah ini terlalu sunyi. Tak ada staf menunggumu di tangga. Tak ada lampu di ruang kerja Ambrose. Tak ada suara dari perpustakaan. Lalu kamu melihat mantel itu. Wol krem. Kancing emas. Tergantung di samping mantel hitam milik Ambrose. Kamu tahu itu. Kamu memilihnya bersama dia. Isadora. Sahabatmu. Matamu turun. Dua gelas anggur ada di meja konsol. Salah satunya masih menyisakan noda lipstik samar di pinggirnya. Musik mengalun dari lantai atas. Pelan. Redam. Berasal dari arah kamar pernikahan. Ruangan yang sudah berbulan-bulan tidak lagi dibagi Ambrose denganmu. Langkahmu lenyap tertelan gemuruh hujan saat kau menaiki tangga. Satu langkah. Lalu satu lagi. Pintu kamar tidur terbuka sebagian. Suara tawa perempuan terdengar pelan dari dalam. Tawa Isadora. Lalu suara Ambrose. Terlalu lirih untuk dipahami. Pintu bergerak ketika tanganmu menyentuhnya. Sunyi. Isadora berdiri di samping tempat tidur memakai salah satu kemeja putih Ambrose. Kaki telanjang. Rambut terurai. Gaunnya tergeletak di kursi berlengan. Ambrose berdiri dekat jendela dengan kancing kemeja bagian atas terbuka. Cincin kawinnya menangkap cahaya lampu. Selama satu detik yang kejam, tak ada yang bergerak. Wajah Isadora memucat. “Kau—” Ambrose berbalik. Mata abu-abunya menatap tajam ke arahmu. Kaget di wajahnya. Lalu lenyap. Giginya mengatup keras. Isadora mencengkeram tepi kemeja itu. “Aku bisa jelaskan.” Ambrose buru-buru menoleh padanya. “Tidak.” Satu kata. Dingin. Final. Isadora terdiam. Ambrose menatapmu lagi. Tak ada permintaan maaf di wajahnya. Tak ada kepanikan. Tak ada upaya menyembunyikan apa yang kamu temukan. Hanya amarah lama. Amarah yang sejak foto-foto itu tiba telah jadi selimut di antara kalian. Amarah yang membuatnya membaca pesan palsu dan menganggapnya lebih penting daripada pengingkaranmu. Tatapannya merambat ke ekspresimu. Sesuatu berpendar di matanya saat ia melihat pengkhianatan di wajahmu. Sakit. Barangkali rasa bersalah. Lalu harga dirinya memadamkannya. Ambrose meraih gelas anggur di nakas samping ranjang. Jari-jarinya mengeras di sekelilingnya. “Kau seharusnya baru kembali besok.” Isadora membisikkan namanya. “Ambrose…” Gelas itu DIHANTAMKAN ke atas meja. “Jangan.” Isadora tersentak. Perhatiannya tak pernah lepas darimu. “Kamu masuk begitu saja ke kamarku tanpa peringatan, menatapku seolah aku telah melakukan dosa yang tak terampuni, dan tiba-tiba aku harus merasa malu?” Nada suaranya meninggi. “Setelah semua yang kau lakukan?” Hujan membentur kaca di belakangnya. Ia melangkah mendekat. “Kamu berbohong padaku.” Langkah lagi. “Berbulan-bulan.” Rahangnya mengeras. “Kamu membiarkanku berdiri di sampingmu sementara kamu mempermalukanku.” Isadora menonton dari balik bahunya. Sunyi. Terlalu sunyi. Cincin kawinnya kembali berkilat saat tangannya mengepal. Cincin itu. Cincin yang sama yang ia tolak untuk lepaskan. Cincin yang terikat pada perjanjian Thornewood. Pernikahan yang sama yang ia klaim telah kamu hancurkan. Ambrose melihat ke mana pandanganmu jatuh. Ekspresinya jadi kejam. “Apa?” Keheningan memanjang. Lalu bibirnya meringis getir. “Kamu tidak berhak tampak dikhianati.” Mata Isadora melirik ke arahnya. Bahkan dia tampak terkejut. Ambrose melangkah makin dekat hingga hanya beberapa langkah memisahkan kalian. “Kau kehilangan hak itu malam saat memilih orang lain.” Nadanya menurun. “Jadi apa pun yang kau harapkan dariku di sini—permintaan maaf, rasa bersalah, penyesalan—lupakan saja.” Di belakangnya, Isadora menundukkan kepala. Tapi tak sebelum secercah tipis kepuasan melewati bibirnya. Ambrose tak melihatnya. Ia masih menatap istrinya. Masih mengenakan cincin pernikahan. Masih berdiri di samping sahabatmu. Masih yakin bahwa kamulah yang lebih dulu melanggar sumpah itu.