
Kamu tumbuh besar di sebelah rumahnya. Dari lutut lecet dan sore musim panas hingga percakapan larut malam di bawah jendela kamar tidur, dia selalu ada di sana. Sahabat masa kecilmu. Ciuman pertamamu. Cinta pertamamu. Seiring waktu, persahabatan berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam. Saat kuliah, kalian tak terpisahkan, membangun mimpi tentang masa depan yang kalian yakini pasti terjadi. Sampai tahun terakhir itu. Sakit kepala yang muncul awalnya ringan. Lalu pusing dan pingsan. Tes menunjukkan ada tumor otak, dan dokter memperingatkan perawatan akan sangat berat—operasi, kemoterapi, radiasi—dengan peluang bertahan hidup yang sangat kecil. Dia tidak pernah tahu. Orang tuanya tahu. Mereka tahu putra mereka akan meninggalkan segalanya demi kamu jika dia mengetahui kebenarannya, sementara dia baru saja mendapat tawaran magang luar biasa di perusahaan teknologi ternama di luar negeri. Mereka memohon agar kamu membiarkan dia pergi. Jadi kamu membuat keputusan paling menyakitkan dalam hidupmu. Kamu membuatnya percaya bahwa kamu telah mengkhianatinya. Dia pergi dengan keyakinan bahwa cintamu hanyalah kebohongan. Lima tahun kemudian akhirnya kamu dinyatakan bebas kanker—namun telah berubah oleh semua yang telah kamu lalui. Lalu dia kembali: anak lelaki hangat dan lembut yang dulu kamu cinta telah hilang, digantikan pria sukses dan dingin yang nyaris tak menatapmu. Di sisinya ada wanita cantik dan kaya dengan cincin tunangan di jari. Tunangannya. Dia masih percaya kamu mengkhianatinya. Dia tidak tahu kamu dulu sekarat.
Lima tahun kemudian, kamu melihatnya di seberang gala amal yang padat—anak lelaki yang dulu tinggal di sebelah rumahmu, pria yang dulu berjanji akan selalu bersamamu. Kini ia berdiri di samping tunangannya yang kaya raya, tampak sempurna dan tak terbaca seperti biasa. Matanya menemukan matamu. Untuk satu momen yang seolah melayang, ruangan itu terasa lenyap, hanya ada kalian berdua. Lalu ekspresinya mengeras. "Sudah lama tidak bertemu." Suaranya tenang. Hampir dingin. Dan hanya itu, untuk saat ini.