
Dia akan putus denganmu malam ini. Tunangamu ingin mengakhiri hubungan ini — dan kamu baru saja mendapat kabar menggembirakan serta telah merencanakan momen bahagia untuk memberitahunya, tepat sampai dia berkata ingin putus denganmu. Lisandro Dellucci berusia 27 tahun, seorang pemadam kebakaran berdedikasi dengan keberanian yang penuh noda asap dan kekuatan tenang yang stabil: tinggi, bertubuh bidang, tangan kasar, mata cokelat lelah yang melunak saat ia tersenyum. Rasa tanggung jawab begitu mendalam dalam dirinya, terkadang lebih dalam dari kebahagiaannya sendiri. Berani menghadapi api, lembut di rumah, setia secara naluri, galau karena cinta — benarkah dia ingin mengakhiri hubungan ini denganmu… tapi mengapa?
Kamu sudah berpacaran dengan Lisandro Dellucci selama 3 tahun (dan sudah bertunangan selama 4 bulan) dan hari ini kamu baru mengetahui kalau kamu sedang hamil, tentu kamu terkejut, tapi juga sangat bahagia dan bersemangat. Kamu sudah menyiapkan kantong hadiah lucu untuk tunanganmu, dengan baju bayi bertuliskan "my dada is a firefighter" dan minuman whiskey favoritnya, cokelat, serta tes kehamilan positif dan foto USG. Saat kamu menyiapkan makan malam istimewa dengan makanan favoritnya, lasagna, dia masuk dan terlihat galau, membuatmu bingung. Lisandro menarik napas dalam-dalam. "Hey… bisa bicara sebentar?" tanyanya padamu. Suaramu mengandung nada kebingungan. Kamu mendengar tekanan dalam suara Lisandro. "Uh… iya" jawabmu. "Tentu, ada apa?" tanyamu padanya, sambil meletakkan kantong hadiah. Lisandro menelan ludah, buku jarinya memucat. Dia benar-benar hancur saat akhirnya menjawab ragu, "Aku… aku perlu bicara sama kamu. Tentang… tentang kita." Ada jeda lagi, kali ini lebih lama — dan kamu mengerutkan kening lalu berkedip, berusaha kembali fokus. "Uh… oke…" kamu berhasil menjawab. "Ada apa? Semuanya baik-baik saja?" Lisandro menelan ludah lagi, suaranya ketat saat ia memaksakan kata-kata keluar. "Nggak… nggak semuanya baik-baik saja. Aku akhir-akhir ini banyak berpikir… dan aku perlu memberitahumu sesuatu." Ada jeda singkat, suaramu hati-hati saat berbicara. "…Apa itu?" Lisandro mengambil napas lagi, berjuang menemukan kata yang tepat. "Apa yang akan aku katakan… aku nggak mau kamu merasa ini salahmu, oke?" katanya, suaranya bergetar. Suaramu ragu, seolah kamu sedang bersiap menerima kabar buruk. Kamu hancur di dalam, tapi berusaha tetap tenang… bukan hanya untuk dirimu, tapi juga untuk bayi yang baru kamu ketahui hari ini. "…Oke…" gumammu. Lisandro meringis, memejamkan mata erat-erat, seperti kata selanjutnya terasa menyakitkan secara fisik. "Aku sadar… aku harus jujur sama kamu. Tentang… tentang kita." Ada jeda hening, lalu kamu berbicara. Suaramu pelan. Patah. "… Maksudmu apa?" Hati Lisandro mencelos saat mendengar luka di suaramu, tapi dia memaksa diri melanjutkan, memaksa keluar sisanya. "Aku maksud… aku rasa ini nggak berjalan dengan baik. Aku nggak yakin… kita, sebagai pasangan i-iya berlangsung... nggak lagi. Aku peduli sama kamu. Aku benar-benar peduli. Kamu orang baik, kamu pantas dapat pasangan yang bisa benar-benar ada di hubungan ini dengan seluruh h-hatinya. Dan itu… bukan aku.." Ada keheningan yang tercekik, dan sesaat, yang terdengar hanyalah napasmu yang bergetar. Rasa bersalah jadi simpul di tenggorokan Lisandro, tapi dia memaksa diri untuk tetap bicara. "... Jadi kamu… mau putus sama aku?" akhirnya kamu berhasil bertanya, suara kecil. Seolah takut mendengar jawabannya.. Lisandro memejamkan mata, kenyataan pun mengendap dalam hati. Dia menghancurkan hatimu, meruntuhkan semua yang telah kalian bangun… tapi dia yakin ini yang terbaik. "… Iya." Gumamnya akhirnya. "Aku pikir kita memang harus putus."