
Dia menceraikanmu karena dia pikir kamu tidak bisa memberinya seorang putra. Sepuluh tahun, tiga putri, dan sebuah perusahaan yang kamu bangun bersamanya, dan dia mengajukan gugatan cerai untuk seorang penari klub malam yang memberinya seorang bayi laki-laki. Dia sangat yakin dengan semua itu. Lalu kamu masuk dengan sebuah amplop dari klinik.
"Sayang, kamu benar-benar adalah anugerah bagi keluarga ini." Suara lantang Constance Delacourt terdengar sampai ke ruang duduk, menghentikan langkahmu tepat di luar ambang pintu. "Akhirnya, Keegan telah menemukan seseorang yang mampu meneruskan nama Delacourt dengan pantas." Senyum yang tadi ada di wajahmu pun menghilang. Beberapa saat yang lalu, kamu hampir melayang masuk ke dalam rumah, memeluk erat sebuah amplop tersegel di dadamu. Setelah sepuluh tahun menikah dan tiga putri cantik—Rosalie, Josephine, dan Tabitha—kamu menerima kabar yang sama sekali tidak kamu duga. Keluargamu akan segera bertambah lagi. Kamu sudah membayangkan ekspresi Keegan ketika kamu memberitahunya. Kamu membayangkan pelukannya, teriakan gembira anak-anakmu saat mereka tahu akan punya adik baru. Tapi yang kamu dengar adalah tawa. Tawa seorang wanita. Kamu melangkah masuk ke dalam ruangan. Dan terpaku. Delilah Beauchamp. Wanita berambut pirang itu duduk dengan nyaman di sofamu seolah memang miliknya, dikelilingi oleh kedua orang tua Keegan. Lebih parah lagi, Keegan sendiri duduk hanya beberapa langkah darinya. "Constance, kau terlalu baik," kata Delilah dengan senyum manis. Constance langsung menggeleng. "Jangan begitu. Kamu sekarang keluarga." Gerald Delacourt mengangguk setuju dari kursinya. "Kamu telah memberikan keluarga ini apa yang sudah ditunggu-tunggu selama bertahun-tahun. Seseorang yang bisa meneruskan nama Delacourt." Perutmu terasa melilit. Lalu Keegan melihatmu. Dia berdiri, memasukkan kedua tangannya ke saku dengan santai. "Kamu pulang." Hanya itu. Tanpa terkejut. Tanpa rasa bersalah. Tanpa apa pun. Jari-jarimu semakin erat meremas amplop itu. "Keegan…" Kamu menatap dia dan Delilah bergantian. "Sebenarnya ada apa ini?" Delilah bangkit dari sofa dan melintasi ruangan sebelum sengaja menyelipkan lengannya di lengan Keegan. "Oh." Senyumnya mengembang. "Kamu belum memberitahunya?" Mata kamu langsung menatap suamimu. "Beri tahukan apa?" Keegan menghembuskan napas panjang. "Baiklah. Tidak ada gunanya menunda lagi." Entah mengapa ketidakpeduliannya terasa lebih menakutkan daripada kemarahan. "Aku dan Delilah sudah bersama selama sepuluh bulan." Hening. Beberapa detik, kamu benar-benar berpikir apakah kamu salah dengar. "Sepuluh... bulan?" Keegan melanjutkan seolah membicarakan urusan bisnis. "Dua bulan lalu, Delilah melahirkan seorang putra." Dia meraih meja, mengambil sebuah foto, dan menyodorkannya kepadamu. "Putraku." Kamu menatap foto itu. Seorang bayi laki-laki mungil digendong Delilah. Sedunia rasanya ikut bergeser. Suara Keegan makin dingin. "Kamu memberiku Rosalie, Josephine, dan Tabitha. Aku menyayangi mereka, tapi kamu tahu tradisi keluargaku. Warisan Delacourt hanya turun ke pewaris laki-laki." Kamu menatapnya. "Jadi, ini semua soal itu?" Constance mendengus. "Jangan berpura-pura tidak mengerti. Sepuluh tahun, sayang. Sepuluh tahun, dan Keegan masih belum punya siapa pun untuk meneruskan namanya." "Putri-putriku membawa namanya." "Perempuan," ujar Gerald dengan nada meremehkan. "Aturannya jelas." Ekspresimu mengeras. "Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka?" Keegan nyaris tak ragu. "Mereka tetap bersamamu. Aku akan menafkahi, tentu saja. Aku sudah siapkan rumah lain untukmu dan anak-anak." Rumah lain. Semuanya sudah dia rencanakan. Penggantimu. Penghapusanmu. Seluruh pernikahanmu sudah dia kemas rapih sebelum kamu tahu semuanya berakhir. Delilah menyandarkan diri pada Keegan dengan senyum puas. "Kamu harusnya bersyukur. Keegan sangat dermawan." Kamu menatapnya, lalu menatap Keegan. "Dermawan?" Kamu tertawa getir. "Sepuluh tahun aku di sisimu, Keegan. Aku mendukungmu saat setengah orang-orang ini bahkan tak percaya kamu akan jadi apa-apa. Aku membantumu membangun hidup yang kau nikmati sekarang." Suaramu bergetar walau kau berusaha menahannya. "Sepuluh tahun kuberikan untukmu." Keegan tak berkata apa-apa. Kamu menelan ludah. "Apa semuanya tak berarti?" Masih diam. Dan entah bagaimana, diamnya itu jauh lebih jelas daripada kata-kata. Mata kamu tertuju ke amplop yang masih remuk dalam genggaman. Kamu masuk rumah tadi dengan harapan amplop itu membawa kejutan terindah dalam hidupmu. Kini rasanya hanya menyakitkan. Perlahan, kamu membukanya. Keegan mengernyit. "Itu apa?" Kamu mengeluarkan hasil pemeriksaan medis. "Hari ini aku ke dokter." Constance menggeleng dengan tak sabar. "Lalu?" Kamu menatap Keegan. "Keluarga kita akan bertambah lagi." Untuk pertama kalinya malam itu, Keegan kehilangan kendalinya. Tangan keluar dari saku. "Apa?" Senyum Delilah memudar. Kamu menggenggam hasil pemeriksaan di dada. "Aku pulang untuk memberimu kejutan. Aku pikir kau akan bahagia." Keegan menatapmu. Constance, bagaimanapun, cepat sekali memulihkan diri. "Itu tidak mengubah apa-apa." Pandanganmu berpindah padanya. Ia menyilangkan tangan. "Delilah sudah memberi Keegan pewaris yang keluarga ini butuhkan. Kami tidak butuh lagi masalah darimu." Ada sesuatu di dalam dirimu yang akhirnya patah. Bukan jadi air mata. Menjadi ketegasan. Dengan hati-hati, kamu mengembalikan hasil itu ke dalam amplop. "Jadi artinya kalian sudah memilih." Keegan melangkah mendekatimu. "Kamu—" "Tidak." Suaranya lirih, tapi berhasil menghentikannya. "Kamu memilih Delilah. Orang tuamu memilih Delilah. Kamu memutuskan putri-putriku tidak cukup baik untuk keluarga ini." Kamu memandang sekeliling ruangan untuk terakhir kalinya. "Nikmatilah pewaris barumu itu." Senyum kemenangan Delilah perlahan kembali. Dia merasa sudah menang. Constance yakin darah murni Delacourt kini aman. Gerald sudah membicarakan warisan yang kelak jadi milik si bocah. Dan Keegan? Keegan baru saja menghancurkan pernikahan sepuluh tahun karena yakin Delilah memberinya satu hal yang selalu dia inginkan. Hanya ada satu masalah. Delilah berbohong. Bocah itu bukan milik Keegan. Dan cepat atau lambat, kebenaran tentang "pewaris murni" keluarga Delacourt itu akan menghancurkan mereka semua.