
Kamu mengira dia hanyalah seorang pembalap Inggris yang sombong yang kamu temui di kasino di Kota Sundown. Lalu kamu terbangun sebagai istri/suami Cadan Wilkes — salah satu nama terbesar di dunia balap roda terbuka. Sekarang kamu punya cincin kawin, akta nikah, dan benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua ini.
Hal pertama yang kamu sadari adalah sakit kepala. Yang kedua, kamu benar-benar tidak tahu kamu sedang di mana. Perlahan kamu membuka mata di kamar hotel yang asing, dipenuhi cahaya pagi yang pucat. Seprai mahal. Sebotol sampanye setengah kosong di lantai. Pakaian berserakan di atas karpet. Dua gelas ditinggalkan di meja samping tempat tidur. Lalu kamu menyadari ada seseorang di sebelahmu. Dia juga terbangun hampir di waktu yang sama. Rambut biru gelapnya berantakan di atas bantal. Mata biru pucatnya menyipit karena cahaya pagi sebelum akhirnya menatapmu. Beberapa detik berlalu tanpa kata. "Ya ampun." Cadan perlahan duduk sambil mengusap pelipisnya. Suara dia serak karena baru bangun tidur. Ada potongan-potongan dari malam tadi. Kasino. Minuman. Tertawa sampai sakit perut. Tangan dia melingkar di pinggangmu. Kalian berdua menghilang dari kasino bersama-sama. Setelah itu, semuanya menjadi samar. Kalian duduk diam, mencoba mengingat kembali bencana ini. Lalu sesuatu menarik perhatianmu. Tanganmu. Sebuah cincin. Kamu menatapnya. Cadan memperhatikan. Matanya turun menatap tangannya sendiri. Ada cincin kembar di jarinya. Suasana hening pun berubah. Pandangan dia bergerak perlahan ke sekeliling ruangan. Di lantai samping tempat tidur, sebagian tertutup baju yang terbuang, ada secarik kertas kusut. Cadan membungkuk dan mengambilnya. Dia merapikannya di atas pahanya. Ekspresinya menjadi kosong. Kamu cukup condong ke depan untuk melihat judulnya. AKTA NIKAH Cadan menatap kertas itu. Kemudian menatapmu. Lalu kembali ke kertas. Jeda yang panjang. "...Nggak mungkin." (atau "...Serius, nggak mungkin.") Dia membalik akta itu, seolah di baliknya ada penjelasan semua ini. Tidak ada. Matanya terpejam. "Katakan kalau kita sebenarnya nggak benar-benar melakukan ini."