
Sahabat terbaikmu sejak kalian pertama kali berbagi kontrakan dan telah menjadi teman serumah lama kini membawa pacar barunya yang berantakan—setelah hanya empat bulan berpacaran—ke apartemen kalian tanpa izin, dan kalian berdua jelas tidak akur. Sekarang Kiara tinggal bersamamu, membuat berantakan, memakai barang-barangmu tanpa izin, dan perlahan-lahan menguji persahabatan kalian selama delapan tahun.
Kiara sudah tinggal di apartemen selama delapan hari. Sepatunya sudah menetap di samping sofa. Ada dua gelas kopi setengah habis di meja kopi, satu kotak takeout dari semalam masih ada di counter, dan tiga kantong belanjaan menumpuk di samping pintu depan. Kemarin, kamu menemukan salah satu cup yogurt Kiara yang setengah dimakan, tersempil di antara bantalan sofa. Sendoknya masih di dalam. Yogurt di pinggiran sudah cukup lama sehingga mengering menjadi kerak. Callum membuangnya dan tidak bilang apa-apa. Pagi ini, giliran mesin cuci. Kamu mau nyuci, tapi begitu membuka mesin cuci, penuh dengan baju-baju Kiara. Baju basah. Aromanya seperti sudah tertinggal sejak kemarin. Lagi. Kiara meringkuk di sofa memakai hoodie Callum, sibuk dengan ponselnya sementara Callum bekerja di meja makan dengan laptop terbuka. Kamu tanya sudah berapa lama bajunya di sana. Kiara nyaris tidak mengangkat kepala. “Oh. Sejak kemarin, kayaknya. Aku lupa.” Dia tetap diam. Beberapa detik berlalu. Kamu mengambil sarung tangan untuk membersihkan. Itu baru menarik perhatian Callum. Dia menoleh dari laptopnya ketika kamu mulai mengeluarkan baju basah Kiara dari mesin cuci dan menjatuhkannya ke keranjangnya. Kiara akhirnya duduk tegak. “Kamu lagi ngapain?” “Mengosongkan mesin cuci, aku mau nyuci.” Jawabmu tanpa berhenti. “Kenapa pakai sarung tangan?” Mata Callum melirik ke Kiara. Lalu balik ke kamu. “Soalnya baju-bajunya bau apek, Cal.” “Serius?” Bentaknya. Kamu tetap mengosongkan mesin cuci. Kiara bangun dari sofa. “Kamu bisa minta aku mindahin bajuku sendiri...” “Aku udah bilang. Dua kali.” Jawabmu datar. Dan ini bukan kekacauan pertama yang ditinggalkan Kiara. Kopi. Makanan. Baju. Sampah. Cup yogurt sialan itu. Wajah Kiara langsung memerah. “Astaga.” Matanya langsung berkaca-kaca. “Aku lupa mindahin cucian dan sekarang aku jadi jorok?” Callum menggeser kursinya ke belakang. “Tidak ada yang bilang kayak gitu, Kiara.” “Dia pakai sarung tangan, Callum.” “Aku lihat kok.” Fokusnya langsung ke kamu. “Sebenarnya kamu kenapa sih?” Kamu menjatuhkan baju basah terakhir ke keranjang Kiara dan mulai memasukkan cucianmu sendiri. Callum berdiri. “Kamu sengaja mau mempermalukan dia apa gimana?” Kiara mengusap wajahnya dan membalikkan badan. “Sudahlah. Aku akan menjauh saja.” “Kiara, berhenti.” Callum berjalan ke arahnya, tapi saat Kiara makin menangis, ekspresinya berubah total. Ia menoleh ke kamu. “Kamu ada masalah apa hari ini?” Suara Callum kini meninggi. Nggak teriak, tapi nyaris. “Dia baru seminggu di sini. Masa nggak bisa kasih dia lima menit buat mindahin bajunya sebelum kamu buang kayak barang kotor?” Dia tahu itu bukan lima menit. Dia juga melihat baju itu di mesin cuci semalam ketika mau nyuci sendiri. Dia membiarkannya, malas ribet. Kiara tersedu di belakang. Rahang Callum menegang. “Dan ngungkit soal cup yogurt cuma buat mempermalukan dia? Serius? Dia cuma lupa buang.” Dia menggeleng, kini benar-benar kelihatan marah. “Aku nggak ngerti apa maumu, tapi sikapmu nggak sopan.” Kiara mengambil keranjangnya. Callum lebih dulu mengambilnya dari tangan Kiara. “Biar aku saja.” Suara Callum kini lembut ke Kiara. Tentu saja. Dia mengangkat keranjang itu dan menatapmu lagi. “Lain kali kalau ada masalah sama Kiara, ngomong ke aku. Jangan bikin dia terpojok dan menangis.” Lalu dia berjalan ke kamarnya sambil bawa cucian basah pacarnya. Wes keluar dari kamarnya dan mengernyit. “Ada apa ini? Dan itu bau apa.”