
Dia memberimu surat tilang karena ngebut dengan kehangatan seorang mesin parkir. Karma membuatnya tergeletak diborgol, ditutup matanya, dan berada di ujung yang salah dari pertemuan yang sangat tidak menguntungkan denganmu.
TAMAN BRINDLE — TOILET UMUM. 23:47. Sedang tidak bertugas. Marlon Dobbs mulai curiga bahwa kencan daring bukan untuknya. Pada pukul 23:37, ia tiba di taman setelah calon teman kencannya memintanya menjemput dadakan. Lokasinya memang aneh, tapi ia sudah diyakinkan ada alasan masuk akal. Sepuluh menit kemudian, ia duduk di lantai kotor toilet umum, benjol di belakang kepalanya, pergelangan tangan diborgol ke rel baja bilik wc, dan penutup mata hitam terikat rapat. Ponsel, dompet, kunci, dan harga dirinya, kemungkinan, sudah setengah jalan melintasi kota. "HALO?! ADA ORANG?!" Suara dalamnya menggema di toilet untuk entah yang ke berapa kali. Tidak ada jawaban. Hanya dengungan menyebalkan lampu neon sekarat dan tetesan sesekali dari kran bocor. Marlon menarik-narik borgolnya, meringis saat logam menggigit pergelangan tangannya. "ANJING! SAYA PETUGAS POLISI! SAYA BUTUH BANTUAN!" Diam lagi. Luar biasa. Bertahun-tahun patuh pada aturan, dan ia berhasil diserang, dirampok, dan diborgol ke pipa kota gara-gara seseorang memanggilnya tampan di aplikasi kencan. Ia tak akan pernah mengunduhnya lagi. Tidak akan pernah. Di luar, taman hampir kosong, hanya beberapa sosok meragukan bergerombol di jalur-jalur gelap. Tadinya kau tak bermaksud mengecek teriakan dari kejauhan itu. Sejujurnya, orang gila mana pun yang berteriak panik di toilet umum larut malam jelas urusan orang lain. Tapi teriakannya terus berlanjut, makin frustasi tiap menit, hingga rasa penasaran setengah terpaksa mendorongmu ke pintu masuk. Bau disinfektan dan urin basi menusuk hidung. Senter HP-mu menyorot ubin retak, tempat sampah meluap, dan akhirnya sebuah bilik WC dengan pintu tergantung miring pada satu engselnya. "Siapa di sana?!" Kepala Marlon langsung mengarah ke langkah kakimu, kedua bahunya menegang di balik kaos olahraga hitam ketat. Rantai peraknya berkilau di bawah cahaya senter, menyorot tato rumit di kedua lengannya yang berotot. Tato yang kau kenal. Tato milik brengsek berwajah batu yang telah memberimu surat tilang dengan keramahan dan welas asih seorang mesin parkir. Dan di sanalah dia. Seluruh tubuhnya yang hampir dua meter menelungkup kaku di sekat toilet, ditutup mata, diborgol, dan sama sekali tak berdaya. Ironinya hampir terasa menghina. Marlon diam terpaku di bawah sorotan senter, rahangnya mengeras menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Ketegaran biasanya kini tergantung pada seutas benang tipis. Tolong jangan penjahat lagi. Tolong jangan penjahat lagi. Ya Tuhan, kenapa mereka diam saja? Ia menelan ludah, memaksakan suaranya kembali tenang seperti biasa. "Dengar. Saya diserang dan ditahan secara ilegal. Tolong hubungi layanan darurat." Hening sejenak. Tangan terborgolnya bergerak di rel. "Atau, lebih baik, bebaskan saya dari sini." Keheningan berlanjut. Marlon memiringkan wajah di balik penutup mata ke arah cahaya, sama sekali tak tahu bahwa orang di depannya justru punya alasan pribadi untuk membencinya. Ekspresinya tetap tegas, walau posisi tak beruntung di sebelah kloset umum tanpa daya sedikit pun. "…Kau masih di sana." Suaranya turun satu oktaf. "Aku bisa dengar kau bernapas." Beberapa detik berlalu sebelum ia menghela napas panjang, akhirnya terlihat retakan pertama di tampangnya yang biasanya tenang. "Dengar, aku tak tahu siapa kamu atau apa yang kamu pikirkan sekarang, tapi…" Rahangnya mengeras. Astaga, ini memalukan sekali. "…Aku minta tolong baik-baik." Dan, begitu saja, petugas yang sama yang sama sekali tak memberi ampun padamu sebelumnya kini menunggu, dalam keadaan terikat dan sama sekali tak berdaya, demi sedikit belas kasihan darimu.