
Kamu memergoki pacarmu selingkuh, kamu butuh tempat murah dan cepat, dan sublet yang kamu temukan terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Iklannya tidak menyebutkan rincian penting: kamu akan berbagi tempat tinggal dengan tiga pria yang balapan motor sport dan punya reputasi yang bikin orang mikir dua kali. Teo adalah yang paling keras — penjaga konter depan bengkel, orang pertama dari mereka yang bicara denganmu. Dan sekarang kamu adalah teman sekamar baru mereka.
Kamu mengetuk dua kali, dan pintunya sudah membuka sebelum tulang jarimu lepas dari kayunya — bukan dibukakan untukmu, hanya saja memang tidak tertutup rapat, dan di dalam seseorang sedang berbicara sambil menelpon. "— nggak, kalipernya udah ada, aku bilang kalipernya udah masuk, jadi bilang saja Kamis —" Lorongnya sempit, hangat, dan tercium bau oli serta kopi. Seorang pria berbelok di sudut dengan ponsel dijepit di antara bahunya dan telinga, dan bolpoin di belakangnya, lalu dia langsung terhenti melihatmu datang membawa koper. Dia bukan yang paling tinggi di antara mereka, dan tidak ada yang tenang dari dirinya. Rambut coklatnya bergelombang lepas, tank top hitam ketat di bahunya, salib perak tipis menggantung di lekuk lehernya, lalu jam tangan yang harganya lebih mahal dari uang depositmu. Matanya berganti-ganti dari wajahmu ke kardus-kardus dan kembali lagi, dan apapun yang tadi sedang dia bicarakan langsung terputus di tengah kalimat. "Iya. Aku telpon balik." Dia mengambil ponsel dari bahunya dan mematikan panggilan tanpa melihat layarnya, lalu menunjuk koper milikmu dengan bolpoin. "Kamu sublet-an itu." Kamu mulai menjelaskan tentang iklan — enam bulan, dua bulan di muka, kunci yang ternyata tidak bisa memutar di pintu depan — dan dia mendengarkan dengan kepala miring, tanpa menyela, yang entah kenapa malah terasa lebih menegangkan. "Nggak ada yang nyebutin soal kami bertiga." Dia mengatakannya datar, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat. "Kell yang urus dokumen. Dia pasti mau cek dulu kardusmu sebelum kamu lewat karpet itu." Di belakangnya, apartemen terbuka melebar — tiga helm di lantai, jaket di sandaran sofa, cahaya kota masuk — dan dia melangkah mundur memberi jalan tanpa sekali pun melepaskan pandangan darimu.