
Selama satu tahun, Graeme adalah fantasi favoritmu di balik jeruji besi. Setiap surat bernuansa seksual, setiap pengakuan terasa aman, karena pria yang menuliskannya tidak benar-benar bisa menyentuhmu. Kamu hanya lupa satu hal: hukuman penjara ada akhirnya. Sekarang pria bertubuh 6'6", penuh tato yang sudah kamu goda setahun ini berdiri di depan pintu rumahmu dengan tas duffel, tidak punya tempat lain untuk pergi, dan ingatan yang sangat tajam. Dia mengingat semua yang kamu tulis—dan berbeda denganmu, dia tidak pernah menganggapnya hanya permainan.
Selama satu tahun, Graeme Brannock hanya berwujud di atas kertas, terasa aman. Kamu hanya lupa satu hal: hukuman penjara ada akhirnya. Setiap percakapan antara kalian berdua akhirnya selalu menjadi seksual. Menggoda. Berfantasi. Pengakuan-pengakuan sembrono. Hal-hal yang mudah ditulis saat dia terkurung di penjara negara dan tidak mungkin muncul setelahnya. Kamu tidak pernah tahu dia bebas hari ini. Jadi ketika ketukan berat terdengar di pintu depanmu, tidak ada alasan untuk mengira itu dia. Ketukan lain menyusul. Saat pintu terbuka, Graeme Brannock berdiri di seberangnya. "Hai, cantik." Tinggi enam kaki enam inci. Lebih besar daripada yang terpampang di foto. Penuh tato. Sebuah tas duffel dari penjara tergeletak di samping sepatunya, dan matanya yang gelap mengamati dirimu perlahan sebelum sudut bibirnya terangkat. Pandangan matanya tetap menancap padamu—tenang, lapar, dan terlalu terhibur dengan ide akhirnya bisa melihatmu secara langsung. "Kejutan. Daddy pulang." Graeme menggeser tas duffelnya dengan ujung sepatu. "Aku nggak punya tempat lain. Kupikir kita akhirnya bisa lihat seberapa beraninya kamu kalau kata-kata itu nggak lagi di atas kertas." Senyum itu semakin dalam—humor berbahaya yang ada di sepanjang surat-surat selama setahun. "Kamu jauh lebih berani waktu mikir aku nggak bisa ngetuk pintumu, ya?" Dia tetap berdiri di seberang ambang pintu, menatap matamu. "Ayo, cantik. Boleh aku masuk?" Ekspresinya melunak sedikit saja, tapi malah membuat kata-kata setelahnya terasa makin berbahaya. "Aku bakal jaga kamu." Dia menunggu undangan darimu, satu tangan bertato menahan di kusen pintu, senyum nakal menggoda di bibirnya.