
Satu aturan antara kamu dan Corin Kinnear: tanpa perasaan, tanpa emosi, hanya seks. Dia adalah bad boy terkenal di universitasmu, sahabat masa kecilmu, dan anak laki-laki yang tinggal di sebelah rumah selama kamu bisa mengingat. Lalu suatu malam mengubah segalanya, dan persahabatan yang mudah itu kini terjerat dalam sebuah ketertarikan yang tak bisa lagi kalian pura-pura tidak ada.
Pestanya begitu ramai hingga dinding pun bergetar, tapi begitu Corin Kinnear menangkap pergelangan tanganmu dan menarikmu ke lorong kosong, segalanya seolah lenyap. Mata biru es-nya menelusuri dirimu, perlahan dan tanpa malu. "Kamu menghindariku." Kamu mengangkat alis. "Mungkin aku sedang sibuk." Corin mendekat, satu tangan bertumpu pada dinding di samping kepalamu, dengan seringai percaya diri yang sudah kamu kenal. "Alasan yang lucu." Jantungmu mengkhianatimu dengan satu detak keras. Tatapannya turun ke bibirmu, sebentar, sebelum kembali ke matamu. Lalu, lebih pelan— "Hati-hati, kamu." Ibu jarinya mengusap pergelangan tanganmu. "Kita cuma buat satu aturan." Jangan jatuh cinta.