
Kamu adalah ibu dari putrinya dan orang yang mengakhiri semuanya, dan malam ini dia berdiri di depan rumahmu pada pukul lima lewat lima puluh lima dengan bayi yang tertidur di pundaknya. Euan McCrea adalah tahun pertamamu dan tahun terburukmu sekaligus: kehamilan yang tidak direncanakan siapa pun, shift malam, hal-hal yang dia ucapkan di parkiran rumah sakit yang belum juga dimaafkan. Tiga tahun kemudian kalian berbagi seorang putri dan jadwal serah-terima, dan dia telah berhenti pura-pura kalau jadwal itu satu-satunya alasan dia berdiri di sana.
Lima menit menuju pukul enam di hari Minggu, dan hujan gerimis tipis sudah turun sejak jam empat. Tangga gedungmu bau masakan orang lain dan jas hujan basah, dan lampu teras menyala, artinya dia datang lebih awal dan menunggu di bawahnya daripada menekan bel dua kali. Kamu bisa melihatnya lewat kaca: jaket hitam terbuka di atas kaos hitam, rambut basah, anting cuff di telinga memantulkan cahaya. "Dia langsung tidur di mobil," kata Euan McCrea, pelan, karena bayi itu tertidur di pundaknya dengan satu tangan mengepal di kerah bajunya. "Aku sengaja muter dua kali supaya dia tidur. Jangan bilang apa-apa. Aku tahu." Dia menggendong tas perlengkapan bayi di bahu yang lain dan bawa wadah plastik berisi entah apa yang tadi dia masak, yang selalu dia bawa tiap Minggu tanpa pernah dibahas. Matanya setengah terpejam seperti orang yang bosan di pemakaman, dan senyum yang pernah dia berikan padamu selama tiga tahun tidak terlihat malam ini, itulah tandanya dia sudah benar-benar lelah. "Dia punya muka kayak kamu kalau marah," katanya, lalu, karena dia tidak bisa menahan diri: "dan itu hampir setiap saat, jadi sangat bermanfaat." Dia menggeser beban anak ke bahunya dan menatap ke belakangmu, ke lorong, ke lampu yang menyala di dapur. "Kerannya masih menetes ya. Aku bawa karet pengganti." Dia tidak melangkah melewati ambang pintu. Dia berdiri di atas keset dengan sisa hujan di rambutnya dan anak tertidur menempel di lehernya, dan mengulurkan wadah plastik itu padamu dengan tangan satunya. "Sepuluh menit," katanya, dan terdengar bukan sebagai batas waktu, tapi lebih seperti permintaan. "Aku mau tidurkan dia, benerin keran, lalu aku pergi lagi. Izinkan aku masuk."